Hadits 1: Niat dan Keikhlasan Amal
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Innamal-a'mālu bin-niyyāt, wa innamā likullimri'im mā nawā, faman kānat hijratuhū ilallāhi wa rasūlihī fa hijratuhū ilallāhi wa rasūlih, wa man kānat hijratuhū lidunyā yuṣībuhā aw-imra'atin yankiḥuhā fa hijratuhū ilā mā hājara ilaih.
Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju.
Hadits ini merupakan poros ajaran Islam. Maulana Syaikh senantiasa menekankan pentingnya meluruskan niat dalam berjuang di NWDI: semata-mata 'Li'ilā'i kalimatillāh' (meninggikan kalimat Allah) dan 'Izzul Islam wal Muslimin'.
